Showing posts with label Hero. Show all posts
Showing posts with label Hero. Show all posts

Tuesday, June 6, 2023

Bukti Otentik Sukarno Lahir di Surabaya

Ini Bukti Otentik Sukarno Lahir di Surabaya

Presiden Sukarno lahir di Surabaya, bukan di Blitar. Sebuah buku induk mahasiswa ITB Bandung menguatkan bukti itu.

DARI BUKU INDUK MAHASISWA ITB, TERCATAT KOTA KELAHIRAN SOEKARNO DI SURABAYA

Jumat, 10 Juni 2022 |

Sejarah mencatat bahwa Kota Surabaya memiliki hubungan erat dengan Presiden pertama Republik Indonesia (RI) Soekarno. Surabaya merupakan kota kelahiran Sang Proklamator pada 6 Juni 1901, tempat pertama mengenyam pendidikan dan mengenal Islam.

Karenanya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus berusaha untuk merawat sejarah, sekaligus merawat identitas Kota Pahlawan. Dari catatan historis tersebut, pemkot berencana menjadikan rumah kelahiran lelaki yang akrab disapa Bung Karno itu menjadi sebuah museum edukasi.

Menurut Sejarawan Bonnie Triyana, terdapat bukti dan keterangan yang menyatakan bahwa Putra Sang Fajar itu bukan lahir di Kota Blitar pada tahun 1902, Melainkan lahir di Kota Surabaya pada tahun 1901.

Ia mengatakan, seorang arsitek dan pemerhati sejarah Bambang Eryudhawan memberikan bukti otentik bahwa Kota Surabaya merupakan tempat kelahiran Sang Proklamator. Bambang saat itu menunjukkan buku induk Technische Hogeschool (TH, cikal bakal ITB Bandung). Disana tertera data diri Soekarno saat sedang berkuliah di sana.

“Ia menunjukkan buku induk mahasiswa TH yang dibuat sejak tempat itu berdiri pada 1920 hingga Jepang belum menduduki Indonesia. Soekarno menempati nomor urut 55 dan masuk ke TH Bandung pada 1921, yang artinya satu tahun setelah TH berdiri,” kata Bonnie Triyana, Kamis (9/6/2022).

Dalam buku induk tersebut, tertera nama Raden Soekarno lahir pada 6 Juni 1902, bukan pada tahun 1901 sebagaimana sejarah yang diketahui khalayak umum. Namun, Bonnie menjelaskan, bahwa hal seperti itu lumrah dilakukan, mengingat kebiasaan zaman dulu, jika anak mau masuk sekolah maka usianya sengaja dibuat muda atau bahkan dibuat tua.

“Mungkin sengaja dibuat muda, serta kemungkinan besar data itu menggunakan data saat Soekarno bersekolah di HBS (Hoogere Burgerschool), yakni sekolah bumi putera yang didirikan pada zaman penjajahan Belanda,” ujar dia.

Tak hanya itu saja, pada buku induk mahasiswa Soekarno juga tertera nama ayahnya, Raden Sosrodihardjo yang berprofesi sebagai seorang guru (onderwijzer) di Blitar dan tertera nama ibunya, Ida Nyomanaka. Soekarno sendiri tercatat sebagai mahasiswa teknik sipil jurusan pengairan (waterbouwkunde).

“Penulisan nama ibu Soekarno ada sedikit perbedaan, sebagaimana yang kita ketahui adalah Ayu Nyoman Rai. Tetapi di buku induk tersebut tertulis Ida Nyomanaka,” kata dia.

Buku tersebut tidak hanya mencatat data diri saja, melainkan semua nama mahasiswa yang lulus maupun yang tidak lulus dari TH. Bahkan, pekerjaan mereka juga tercatat dalam buku induk tersebut.

“Jadi tidak hanya Soekarno, tapi seluruh mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan di sana tercatat lengkap oleh universitas teknik pertama di Indonesia itu,” terang dia.

Buku induk mahasiswa tersebut juga mencatat nilai Soekarno semasa kuliah di TH. Meski sempat cuti selama hampir satu tahun pada 1921, ia kembali melanjutkan pendidikannya pada tahun ajaran 1922/1923. “Nilai yang diperoleh tahun itu adalah 5,85. Kemudian tahun 1923/1924 adalah 6,75. Tahun ajaran 1925/1925 adalah 6,28 dan pada tahun 1925/1926 adalah 6,55,” ungkap dia.

Melalui buku induk mahasiswa TH, Soekarno ingin memperkuat keterangan bahwa dirinya dilahirkan di Kota Pahlawan. Selain itu, dalam sebuah buku yang ditulis oleh Cindy Adams mengisahkan otobiografi Soekarno. Buku itu berjudul Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, tertulis kisah tentang ayah dan asal usul tempat kelahirannya.

“Soekarno berkisah, ‘karena merasa tidak disenangi di Bali, Bapak kemudian mengajukan permohonan kepada Departemen Pengajaran untuk pindah ke Jawa. Bapak dipindahkan ke Surabaya dan disanalah aku dilahirkan’. Demikian kata Soekarno yang memperjelas tempat kelahirannya,” pungkasnya.


Sumber :

https://www.surabaya.go.id/id/berita/67331/dari-buku-induk-mahasiswa-itb

https://historia.id/politik/articles/ini-bukti-otentik-sukarno-lahir-di-surabaya-PNR0A/page/1

Thursday, May 14, 2015

Kisah Mbah Dul

Tukang becak ibadah dengan perbaiki jalan rusak

Sumber foto : http://m.suarasurabaya.net

Apa yang dilakukan Abdul Sukur ini sangat luar biasa. Meski hanya tukang becak, warga Jalan Tambak Segaran Barat, Gg I/27, Surabaya, Jawa Timur ini melakukan usaha yang luar biasa untuk kotanya. Mbah Dul sudah 10 tahun menambal jalan berlobang agar tak membahayakan para pengguna jalan,

Semua yang dia lakukan, tak pernah sekalipun berharap imbalan. Apa yang dilakukannya kakek 65 tahun itu tiap malam, murni atas dasar kemanusiaan.

Tiap malam hingga dini hari, usai mengais rizki dari mengayuh becak, dia mencari jalan yang rusak.

Kemudian, kakek tujuh cucu itu, mencari bongkahan-bongkahan aspal bekas atau batu krikil di daerah Pasar Atom dan di Jalan Tambak Adi. Dengan berbekal hamer atau palu berukuran sedang, dia memecah bongkahan aspal yang sudah tidak terpakai.

Bongkahan-bongkahan aspal bekas perbaikan parit atau selokan itu, lalu diangkutnya menggunakan becak reot miliknya. Sekali angkut, becaknya mampu menampung 3 kuintal aspal bekas. Lalu digunakan menambal jalan yang berlubang. Untuk meratakannya, Pak Dul menempanya dengan palu miliknya.

Saat ini, beberapa ruas jalan di Kota Pahlawan yang sudah ditambalnya dari bongkahan aspal atau batu krikil, di antaranya Jalan Gembong, Tambak Rejo, Semut, Bunguran dan beberapa ruas jalan lainnya.

Pak Dul yang akrab disapa Pak Wek atau Mbah Wek (pak tua) oleh rekan-rekan seprofesinya ini, juga tak jarang membantu orang lain selama dia bisa.

Dari hasil mengayuh becak, Pak Dul pulang hanya membawa uang Rp 30 ribu, kadang kalau ramai penumpang bisa dapat Rp 40 ribu sama 50 ribu rupiah, dia tidak pernah meratapi nasibnya.

Sebelumnya, Himan Utomo mengunggah kisah tukang becak bertingkah aneh di akun facebooknya, Selasa (12/5). Saat itu, Himan sedang menunggu istrinya yang bekerja di ITC. Hilman lantas menawarkan rokok untuk membuka percakapan. "Bapak dari Dinas Kota kah kok meratakan jalan dan cuma memakai becak? Bukankah Dinas Kota punya fasilitas."

Pak Dul mengaku jika dirinya merupakan tukang becak biasa. Tak puas dengan jawab itu, Himan menyorongkan pertanyaan lagi, siapa yang mempekerjakan dan berapa diberi gaji. "Saya enggak kerja sama siapa-siapa dan tidak digaji siapa-siapa," jawab Pak Dul.

Mendengar jawaban itu, rasa penasaran Himan bertambah besar. Kenapa orang seumuran Pak Dul mau bekerja tanpa ada imbalan sepeser pun. Padahal pekerjaan itu sudah tanggung jawab Pemerintah Kota Surabaya.

"Enggak apa-apa mas, ini sudah jadi hobi saya tiap malam. Setelah cari rezeki dengan menjadi tukang becak, malamnya saya selalu mencari bongkahan batu aspal, buat nutup jalan yang berlobang, ya hitung-hitung abdi saya sebagai warga kota Surabaya," terang Pak Dul dengan tersenyum.


Sumber :
http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-mbah-dul-si-tukang-becak-ibadah-dengan-perbaiki-jalan-rusak.html

Related Posts