Monday, June 8, 2015

Underpass Bundaran Satelit


Menghadapi kemacetan para pengusaha property yang tergabung dalam kelompok Real Estate Indonesia (REI) berinisiatif membangunkan terowongan (underpass) di salah satu titik termacet di Surabaya.

Terowongan akan dibangun DPD REI Jawa Timur di lokasi area bundaran satelit, Jalan Mayjen Sungkono. penandatanganan kesepakatan bersama antara Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan DPD REI Jawa Timur terkait pembangunan terowongan bundaran satelit bdilakukan, Ahad (7/6), bertempat di rumah dinas Wali Kota Surabaya.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, keterlibatan para pengembang dalam pembangunan infrastruktur tersebut, menjadi bentuk nyata di mana Surabaya dibangun oleh seluruh unsur yang ada di Kota Pahlawan.


Risma berharap, keberadaan terowongan bundaran satelit yang akan mulai dibangun tahun ini, nantinya bisa mengurai kepadatan lalu lintas di kawasan Jalan Mayjen Sungkono. Dengan begitu, menurut Risma, akses menuju kawasan Surabaya Barat menjadi lebih baik.

Pemkot Surabaya, Risma menyampaikan, sudah mengantisipasi gerak lalu lintas selama pembangunan terowongan bundaran satelit dilakukan. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait sudah memiliki rencana matang untuk merekayasa lalu lintas di sana.

Underpass Mayjend Sungkono sudah ada di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan tinggal proses eksekusi.

Selain itu, kata Risma, pihaknya sekarang juga masih nego dengan Jasa Marga karena Underpass Mayjend Sungkono ini akan melewati pondasi jalan tol. Untuk jalur alternatifnya, lanjut dia, di atas Viaduk yang tersambung dengan kawasan Graha Family. Tapi masalahnya di sana ada bangunan yang memiliki izin.

Tri Rismaharini juga mengaku sudah menghadap Menteri PU terkait pembangunan Underpass Mayjend Sungkono ini dan sudah disetujui. Namun pihak Jasa Marga masih takut nantinya pembangunan Underpass Mayjend Sungkono ini akan mengganggu kekuatan pondasi awal.

Keterlibatan organisasi yang memayungi para developer atau pengembang properti dalam pembangunan underpass Bundaran Satelit merupakan timbal balik good governance Pemkot Surabaya yang memberikan kemudahan dalam pengurusan perizinan secara pararel melalui program Surabaya Single Windows.

Pemkot Surabaya sebenarnya dengan kemampuan anggaran yang dimiliki bisa membangun proyek yang untuk mengatasi kemacetan di Surabaya barat itu. Namun, REI juga memiliki pertimbangan khusus.

Dalam pengerjaan underpass Bundaran Satelit, Totok mengungkapkan ada sekitar 20 pengembang yang terlibat dengan estimasi selesai pengerjaan sekitar 2 tahun.

Untuk biaya, Totok pihaknya masih melakukan penghitungan mengikuti kurs dollar yang terus fluktuatif. Pada awal, proyek underpass ini ditaksir menelan Rp 56 Miliar.

Rencana swasta ingin membantu pembangunan infrastruktur jalan di Surabaya karena mereka menilai masalah ini tidak bisa diatasi Pemkot saja. Apalagi sekarang ini kemacetan, terutama di Surabaya sudah sangat parah.

Pembangunan terowongan ini menjadi salah satu solusi guna mengurai kemacetan tersebut. Jika pembangunan terowongan ini terwujud, maka arus lalu lintas dari Surabaya barat ke pusat kota bisa menjadi lancar.

Meski membantu proyek, pihaknya meminta pengembang untuk tidak memanfaatkan keberadaan terowongan ini sebagai iklan dari produk properti mereka. Misalnya, dengan membeli produk hunian di Surabaya barat akan nyaman karena sudah ada terowongan.


Sumber :
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/06/07/npkls4-urai-kemacetan-pengembang-di-surabaya-patungan-bangun-terowongan?ref=yfp
http://kelanakota.suarasurabaya.net/news/2015/150479-Underpass-Bundaran-Satelit-Tinggal-Proses-Eksekusi
http://news.detik.com/surabaya/read/2015/06/07/172856/2935674/475/ini-alasan-rei-bangun-underpass-di-bundaran-satelit-surabaya
http://www.lensaindonesia.com/2015/04/12/underpass-bundaran-satelit-dibiayai-swasta.html

Thursday, May 14, 2015

Kisah Mbah Dul

Tukang becak ibadah dengan perbaiki jalan rusak

Sumber foto : http://m.suarasurabaya.net

Apa yang dilakukan Abdul Sukur ini sangat luar biasa. Meski hanya tukang becak, warga Jalan Tambak Segaran Barat, Gg I/27, Surabaya, Jawa Timur ini melakukan usaha yang luar biasa untuk kotanya. Mbah Dul sudah 10 tahun menambal jalan berlobang agar tak membahayakan para pengguna jalan,

Semua yang dia lakukan, tak pernah sekalipun berharap imbalan. Apa yang dilakukannya kakek 65 tahun itu tiap malam, murni atas dasar kemanusiaan.

Tiap malam hingga dini hari, usai mengais rizki dari mengayuh becak, dia mencari jalan yang rusak.

Kemudian, kakek tujuh cucu itu, mencari bongkahan-bongkahan aspal bekas atau batu krikil di daerah Pasar Atom dan di Jalan Tambak Adi. Dengan berbekal hamer atau palu berukuran sedang, dia memecah bongkahan aspal yang sudah tidak terpakai.

Bongkahan-bongkahan aspal bekas perbaikan parit atau selokan itu, lalu diangkutnya menggunakan becak reot miliknya. Sekali angkut, becaknya mampu menampung 3 kuintal aspal bekas. Lalu digunakan menambal jalan yang berlubang. Untuk meratakannya, Pak Dul menempanya dengan palu miliknya.

Saat ini, beberapa ruas jalan di Kota Pahlawan yang sudah ditambalnya dari bongkahan aspal atau batu krikil, di antaranya Jalan Gembong, Tambak Rejo, Semut, Bunguran dan beberapa ruas jalan lainnya.

Pak Dul yang akrab disapa Pak Wek atau Mbah Wek (pak tua) oleh rekan-rekan seprofesinya ini, juga tak jarang membantu orang lain selama dia bisa.

Dari hasil mengayuh becak, Pak Dul pulang hanya membawa uang Rp 30 ribu, kadang kalau ramai penumpang bisa dapat Rp 40 ribu sama 50 ribu rupiah, dia tidak pernah meratapi nasibnya.

Sebelumnya, Himan Utomo mengunggah kisah tukang becak bertingkah aneh di akun facebooknya, Selasa (12/5). Saat itu, Himan sedang menunggu istrinya yang bekerja di ITC. Hilman lantas menawarkan rokok untuk membuka percakapan. "Bapak dari Dinas Kota kah kok meratakan jalan dan cuma memakai becak? Bukankah Dinas Kota punya fasilitas."

Pak Dul mengaku jika dirinya merupakan tukang becak biasa. Tak puas dengan jawab itu, Himan menyorongkan pertanyaan lagi, siapa yang mempekerjakan dan berapa diberi gaji. "Saya enggak kerja sama siapa-siapa dan tidak digaji siapa-siapa," jawab Pak Dul.

Mendengar jawaban itu, rasa penasaran Himan bertambah besar. Kenapa orang seumuran Pak Dul mau bekerja tanpa ada imbalan sepeser pun. Padahal pekerjaan itu sudah tanggung jawab Pemerintah Kota Surabaya.

"Enggak apa-apa mas, ini sudah jadi hobi saya tiap malam. Setelah cari rezeki dengan menjadi tukang becak, malamnya saya selalu mencari bongkahan batu aspal, buat nutup jalan yang berlobang, ya hitung-hitung abdi saya sebagai warga kota Surabaya," terang Pak Dul dengan tersenyum.


Sumber :
http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-mbah-dul-si-tukang-becak-ibadah-dengan-perbaiki-jalan-rusak.html

Wednesday, May 6, 2015

Pawai Bunga Surabaya

Pawai Bunga di Surabaya Berlangsung Meriah

Dalam rangka memeriahkan hari jadi Pemerintah Kota Surabaya ke-722 yang jatuh pada 31 Mei mendatang, Pemerintah Kota Surabaya menyelenggarakan Parade Budaya dan Pawai Bunga pada hari ini, Ahad, 3 Mei 2015. Puluhan peserta berangkat dari Tugu Pahlawan dan finis di Balai Kota Surabaya. Adapun untuk kendaraan pawai berlanjut ke Taman Bungkul.

Jumlah peserta sebanyak 87 kelompok. Ini naik 100 persen dibanding tahun sebelumnya..

Parade budaya yang disaksikan ribuan pasang mata itu sangat unik dan beraneka ragam. Aneka mobil berhias rangkaian bunga dimeriahkan oleh SKPD Pemkot Surabaya, BUMD Pemkot Surabaya, perguruan tinggi, dan perusahaan. Selain itu, duta dari kota tetangga maupun luar provinsi juga ikut memeriahkan parade budaya itu.

Peserta dari Surabaya di antaranya Dinas Pertanian Kota Surabaya yang memajang hasil buah dan sayur-mayur Kota Surabaya yang dikemas dengan cantik dan kreatif. Ada pula mobil bunga berbentuk keran air raksasa dari PDAM Surya Sembada serta topeng badut raksasa dari Surabaya Carnival, mobil hias dari perusahaan pasar, serta peserta dari Pemerintah Kota Surabaya sendiri.

Sedangkan peserta yang berasal dari luar, di antaranya Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Barat dengan tarian dan mobil hiasnya serta peserta dari Sleman yang mengusung tampilan miniatur Candi Borobudur.

Risma mengatakan bahwa parade budaya dan pawai bunga tahun 2015 lebih semarak dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal itu sesuai dengan tema yang diusung, yaitu "Semarak Surabaya Dalam Keberagaman Budaya". Parameter keberhasilannya adalah jumlah peserta yang meningkat drastis dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Kali ini peserta datang tidak hanya dari dalam kota, tetapi juga dari luar Kota Surabaya.

Ribuan warga Surabaya yang menyaksikan parade itu antusias menonton pertunjukan. Mereka tak menghiraukan meski rintik hujan turun. Mereka mengakui bahwa parade kali ini sangat menarik dan lebih kreatif dibanding tahun lalu.



Pawai Bunga lebihi Pasadena Carnival digelar saat Hari Jadi Surabaya

Pemkot Surabaya punya konsep berbeda dalam memperingati Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-722. Meski masih ada acara andalan pawai bunga, namun event yang rencananya digelar pada Minggu (3/5/2015) nanti makin beragam. Indikatornya, jumlah peserta yang berpartisipasi di acara bertema `Semarak Surabaya Dalam Keberagaman Budaya` ini, lebih banyak dibanding tahun kemarin.

Asisten I Sekkota Surabaya, Yayuk Eko Agustin menegaskan, hingga H-3, sudah ada 85 peserta yang memastikan ambil bagian dalam acara pawai bunga yang menjadi rangkaian untuk menyambut Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) Surabaya ke-722 pada 31 Mei mendatang. Selain mobil berhias bunga, juga akan ditampilkan budaya lokal khas Surabaya seperti Manten Pegon.

Baca juga: Manajemen Suroboyo Carnival berkilah saat mangkir dari panggilan DPRD dan Manajemen Suroboyo Carnival gerilya lakukan lobi perijinan

Yayuk Eko Agustin mengatakan, parade budaya dan pawai bunga tahun ini akan dikemas sedikit berbeda dibandingkan peringatan Hari Jadi Kota Surabaya sebelumnya. Yang paling mencolok adalah waktu pelaksanaanya. Bila sebelumnya digelar siang, untuk tahun ini, pawai dekorasi bunga dalam ukuran besar yang membentuk berbagai karakter dan diarak di jalanan itu akan digelar pagi hari. Ini karena bila digelar pada siang hari seperti yang sudah-sudah, kemeriahannya kurang maksimal, karena waktu yang mendekati malam. Sementara bila digelar pagi, waktunya relatif lebih panjang.

Mantan Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Surabaya ini menjelaskan, seperti tahun sebelumnya, parade budaya dan pawai bunga akan diawali dari Tugu Pahlawan, kecuali para model busana yang akan ambil bagian dari dari SMA Trimurti.

Parade akan berakhir di Taman Surya. Namun, nantinya, kendaraan dekorasi bunga akan melanjutkan kembali perjalanan. Keluar dari Taman Surya, mobil pawai bunga akan belok kanan menuju beberapa rute seperti ke Jl Pemuda hingga ke Jl Darmo. Nantinya, bunga bisa dibongkar di kawasan Jl Darmo Kali. Di beberapa titik, juga akan disiapkan semacam tribun untuk acara hiburan.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya, Wiwiek Widayati, meyakini parade budaya dan pawai bunga ini akan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan lokal dan juga turis asing untuk datang ke Surabaya. Apalagi, Disbudpar Surabaya sudah melakukan promosi ke banyak pihak. Selama ini, di hari biasa saja, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Surabaya, jumlahnya sudah cukup banyak.



Sumber :
http://www.tempo.co/read/news/2015/05/03/204663072/Pawai-Bunga-di-Surabaya-Berlangsung-Meriah
http://www.lensaindonesia.com/2015/04/30/pawai-bunga-lebihi-pasadena-carnival-digelar-saat-hari-jadi-surabaya.html

Wednesday, April 8, 2015

Sambal Bu Rudy

Bagi pendatang yang hendak mudik dari Surabaya pasti kesulitan mencari oleh-oleh yang khas dari kota metropolis Surabaya. Namun seperti yang dikutip di ayorek.org, ada 1 makanan khas yang bisa di dapat dan sebagai buah tangan jika hendak mudik.

Berikut artikel selengkapnya

Di balik sebotol sambal Bu Rudy

Bu Rudy
Bernama asli IE Lani Siswadi, lahir pada 1953 di Madiun, dan merantau ke Surabaya pada tahun 1970.

Sambal udang yang mashyur
Berawal dari mengolah umpan menjadi udang kering jika Pak Rudy pulang memancing tanpa membawa ikan. Sambal pelengkap dibuat berupa potongan bawang, cabai, garam, dan minyak.

Suasana depot Bu Rudy
Bu Rudy saat itu ditemani sang suami dan cucunya yang kembar tiga, duduk di belakang kasir sambil menyapa sejumlah pembeli terakhir hari itu.

Selalu terlihat segar
"Saya sehatnya luar biasa. Saya jarang makan buah, tidak suka jamu, olahraga juga tidak, tapi hati ini selalu senang.  Setiap hari pukul 05.30 saya sudah ada di sini."

Menjaga kesegaran makanan
"90% saya turun tangan langsung untuk mempersiapkan 40 macam menu yang disajikan di sini. Saya belanja kebutuhan pokok di Pasar Keputran, udang dari supplier di Gresik, dan cabai dari Kediri, semuanya fresh."

Suasana dalam depot
Tetap ramai menjelang jam tutup Depot Masakan Khas Bu Rudy di Jalan Dharmahusada 140.

Menjadi pusat oleh-oleh tanpa embel-embel
"Kalau enak saya berani ngambil, sekarang ada 300 supplier . . . Supplier datang dari berbagai kota di Jawa Timur, Bandung, Solo, dan Yogyakarta."

Rencana ke depan
"Sekarang umur saya sudah tua, jadi anak-anak dan menantu yang akan meneruskan usaha ini. Anak laki-laki yang punya bakat masak seperti saya."

Depot Masakan Khas Bu Rudy di Jl. Dharmahusada 140
Lima cabang lainnya: Raya Kupang Indah 31, Anjasmoro 45, Pasar Atom Tahap I Lt 4 Food Court, Mall Pasar Atom Lt 5 Blok H18, dan Pusat Grosir Surabaya Lt 4 Food Court.
Para pelancong, mengenal Surabaya akan citarasa masakannya yang pedas. Mulai dari rujak cingur, sego bebek, hingga lontong balap. Maka tak heran, sambal kemasan menjadi oleh-oleh otentik yang bisa dibawa pulang oleh pelancong. Sambal kemasan yang paling masyhur dari Surabaya adalah Sambal Udang Bu Rudy.

IE Lani Siswadi, yang lebih dikenal sebagai Bu Rudy, lahir di kota Madiun. Suatu sore di Surabaya Timur menjelang jam tutup Depot Masakan Khas Bu Rudy di Jalan Dharmahusada 140,  Bu Rudy saat itu ditemani sang suami dan cucunya yang kembar tiga, duduk di belakang kasir sambil menyapa sejumlah pembeli terakhir hari itu.

Bagaimana dengan masa kecil Bu Rudy di Madiun?
Saya lahir di kota Madiun pada tahun 1953. Masa kecil saya sangat susah di zaman itu. Saya dituntut untuk mencari nafkah, membiayai orang tua dan adik-adik karena aku anak tertua. Dengan Kejadian 1965 membuat kota Madiun tetap sulit setengah mati. Saya putus sekolah. Tahun 1966 Bapak saya meninggal. Semuanya kelabu. Saya bekerja apa saja, bantu-bantu tetangga, memasak, belanja ke pasar. Masa kecil tidak ada masa indah, sulit. Ketidakmampuan itu membuat saya giat bekerja.

Sejak kapan Bu Rudy merantau ke Surabaya?
Tahun 1970 saya merantau ke Surabaya, naik bis jam setengah dua malam, berangkat dengan restu orang tua dan hanya dengan membawa dua baju. Ada saudara di Surabaya yang mengajak saya bekerja di sana. Saya berangkat hanya berbekal tenaga karena hanya sekolah sampai kelas 4 SD. Di Surabaya saya jual tenaga, ikut orang, apapun saya kerjakan asal saya dapat gaji, dan gaji itu saya kirim ke orang tua di Madiun. Saya tinggal di Kapasan Dalam, rumah saudara saya. Saya bekerja sebagai kuli sekaligus bagian penjualan di sebuah toko di Pasar Turi, Pada tahun 1978 Pasar Turi terbakar. Pada tahun yang sama terbakarnya Pasar Turi yaitu 1978, saya menikah di Surabaya dengan Rudy Siswadi, lalu kontrak rumah di Jalan Pandean. Setelah menikah dan mempunyai satu anak, saya kembali bekerja ikut orang di Pasar Turi. Hingga tahun 1983, saya usaha sendiri buka toko sepatu di Pasar Turi. Namun Pasar Turi terbakar hebat untuk kesian kalinya pada tahun 2007.

Bagaimana memulai usaha depot masakan madiun?
Sejak tahun 2000 saya juga buka usaha di pinggir Jalan Manyar Kertoarjo, jualan nasi pecel madiun, seminggu sekali ada menu tambahan yaitu nasi udang yang menjadi menu andalan hingga saat ini. Saya orang Madiun jadi mengembangkan produk Madiun, saya tidak akan melupakan kota kelahiran saya. Karena Pasar Turi ludes terbakar pada tahun 2007, saya fokus untuk mengembangkan usaha depot masakan Madiun. Saya pindah dari jalan untuk kontrak tempat, hingga sekarang ada lima cabang (Raya Kupang Indah 31, Anjasmoro 45, Pasar Atom Tahap I Lt 4 Food Court, Mall Pasar Atom Lt 5 Blok H18, dan Pusat Grosir Surabaya Lt 4 Food Court).

Bagaimana Sambal Udang Bu Rudy bisa muncul?
Pak Rudy, suami saya, suka memancing. Jika tidak dapat ikan, umpannya berupa udang kecil dibawa pulang, lalu saya masak jadi udang kering, Saya membuat sambal sebagai pelengkap udang kering, Sambal berupa potongan bawang, cabai, garam, dan minyak, ternyata cocok. Lalu saya mulai jual nasi udang dengan sambal, ternyata digemari oleh pembeli. Lalu saya mulai jual sambal udang dalam kemasan, ternyata laris.

Apa keunggulan masakan khas Madiun?
Sejak kecil di Madiun saya makan tahu tempe dan ikan asin. Masakan Madiun adalah makanan orang kampung. Di Surabaya menjadi besar karena orang kota lama tidak makan masakan seperti ini. Mereka setiap ke sini carinya lodeh terong, lodeh tewel, lodeh rembung, bukan ayam goreng. Pelanggan saya yang orang Chinese maupun orang Jawa heran kok saya orang Chinese pinter masakan Jawa. Masakan dijamin enak karena 90% saya turun tangan langsung untuk mempersiapkan 40 macam menu yang disajikan di sini. Saya belanja kebutuhan pokok di Pasar Keputran, udang dari supplier di Gresik, dan cabai dari Kediri, semuanya fresh.

Bagaimana proses pencarian menu baru?
Menu terbaru adalah nasi bakar sejak bulan puasa tahun lalu. Biasanya di bulan puasa penjualan menurun, jadi saya putar otak, akhirnya membuat menu baru nasi bakar ayam, nasi bakar udang, dan nasi bakar cumi, ternyata laris. Setiap menu baru yang saya buat selalu disukai orang. Prosesnya spontan, saat saya makan nasi bakar di suatu restoran, saya menemukan kekurangan rasa. Di rumah saya benahi bumbu-bumbunya, saya coba masak, pegawai-pegawai saya suka semua, jadilah nasi bakar Bu Rudy. Si Hitam Manis—pisang goreng madu—diajari oleh teman saya di Jakarta, saya coba bikin ternyata laris.

Dengan kemunculan beragam sambal dalam kemasan botol, apa yang membuat Sambal Bu Rudy tetap diminati?
Rasa tidak bisa menipu. Tapi saya tidak pernah bilang kalau sambal Bu Yanti, Bu Indra, atau Bu Yeti itu tidak enak, itu terserah si pembeli. Saya tidak menjelekkan merek lainnya karena itu masalah selera, ada khasnya sendiri, baunya saja beda kok. Sambal saya sambal tradisional, mesin dirubah sendiri sesuai kebutuhan oleh Pak Rudy. Sambal selalu fresh tanpa bahan pengawet, bisa bertahan selama 10 hari dalam suhu ruangan.  Saya paling bangga saat seorang pembeli datang ke tempat ini dan kehabisan sambal. Saya bilang ke dia untuk menunggu sebentar, paling lama 10 menit, karena sambal yang masih hangat akan segera datang. Sambal yang baru datang, saya ambil satu botol lalu saya sentuhkan ke tangan pelanggan, masih terasa hangat.

Ada orang yang langsung membeli 100 botol, lalu saya tanya untuk apa, jika untuk dijual lagi sebaiknya tidak usah ambil banyak-banyak, secukupnya saja, besok kalau habis bisa beli lagi, biar sambalnya selalu segar. Sambal saya banyak dijual di toko oleh-oleh di Pasar Genteng juga di supermarket Bilka. Saya turut senang karena pelanggan saya bisa mendapatkan Sambal Bu Rudy jika jam operasional depot  telah berakhir. Karena tidak semua orang luar kota bisa meraih tempat ini, mereka lebih mudah menjangkau Pasar Genteng sebagai pusat oleh-oleh.

Saya tidak punya kekhawatiran dengan kemunculan beragam sambal kemasan. Namun yang saya heran ada seorang yang sudah kaya raya membuat  pabrik sambal kemasan, bukan industri rumahan tapi pabrik.

Kesuksesan Bu Rudy sudah ditangan, bagaimana mempertahankannya?
Kuliner saya sukses di Surabaya, dari kalangan kecil sampai Presiden semuanya tahu Bu Rudy. Saya tidak pernah memasang iklan, iklan yang mencari saya. Publikasi selalu ada baik di media nasional maupun lokal bahkan media menengah ke atas. Saya mempertahankan kualitas, jangan sampai ada yang complain masakan saya bau. Untuk promosi via Twitter dikelola oleh menantu, saya tidak paham dengan Twitter. Kritik pelanggan juga saya perhatikan karena itu yang membangun kesuksesan saya.

Bagaimana dengan desain kemasan Sambal Bu Rudy?
Desain saya tidak macam-macam, sederhana, kalau aneh-aneh keluar banyak biayanya. Desain saya hanya di botol dan seal dengan logo Sambal Bu Rudy. Pada awalnya pabrik botol langganan saya mengeluarkan desain baru, lalu saya melakukan perjanjian eksklusif dengan pabrik tersebut untuk hanya menjual botol dengan desain itu hanya ke Bu Rudy. Jadi botol saya tidak ada yang menyamai lagi. Saya minta sekalian ke pabriknya untuk membuatkan logo Sambal Bu Rudy.

Saya memberikan wejangan kepada pelanggan untuk hati-hati dalam membeli Sambal Bu Rudy. Jika membeli Sambal Bu Rudy bukan di saya atau cabang, sebaiknya memperhatikan produknya, mulai dari segel dengan logo Sambal Bu Rudy sampai ke desain botol yang berbeda dengan botol sambal lainnya.

Satu yang berkesan dari Bu Rudy adalah foto Bu Rudy yang terpasang sebagai bagian dari logo Bu Rudy. Tolong ceritakan mengenai foto tersebut.
Foto itu diambil saat saya berumur 40 tahun. Waktu itu sedang zamannya foto studio. Saya ke studio di Delta. Hasilnya saya suka dan saya pakai untuk usaha saya.

Tempat ini selalu penuh dengan pengunjung dan barang yang dijual, bagaimana Bu Rudy menata ruang-ruang disini?
Ini memang seperti pasar, saya tidak ada rasa takut dicuri orang, enjoy setiap hari bisa bertemu customer. Kadang customer bukan tidak mau membayar, tetapi lupa. Dekorasi juga asal-asalan, tidak ada desain khusus. Dapur khusus sambal ada di rumah saya karena harus lebih streril, tidak boleh kena air.

Bu Rudy selalu terlihat sehat bugar, apa resepnya?
Saya sehatnya luar biasa. Saya jarang makan buah, tidak suka jamu, olahraga juga tidak, tapi hati ini selalu senang.  Setiap hari pukul 05.30 saya sudah ada di sini. Saya sangat suka dengan pekerjaan ini, bangga sekali. Saya bisa kenal dengan artis, pejabat. Orang bodoh bisa dikenal seperti itu. Saya punya teman banyak, kemana pun saya pergi dikenal sama orang. Minimal 10 orang yang menyapa jika saya pergi ke mall. Itu yang membuat hati saya senang. Apa yang saya mimpikan telah saya raih karena keuletan dan ketekunan. Saya sudah lebih dari cukup sekarang.

Selain sebagai depot masakan, Bu Rudy juga menjual beragam snack dan oleh-oleh, malah menjadi pusat oleh-oleh tanpa embel-embel “toko oleh-oleh”. Bagaimana seleksi supplier dilakukan?
Kalau enak saya berani ngambil, sekarang ada 300 supplier. Yang saya ambil langsung dari Madiun adalah sambal pecel dan kerupuk puli (beras). Saya bilang ke supplier harus jaga kualitas dan selama ini supplier saya semuanya kualitasnya baik dan terjaga. Saya menerima titipan makanan dan minuman karena ingin membuka peluang kerja yang lebih luas. Supplier datang dari berbagai kota di Jawa Timur, Bandung, Solo, dan Yogyakarta.

Bagaimana dengan kuliner khas Surabaya?
Saya suka makanan Surabaya. Lontong balap, rujak cingur, tahu campur, soto, sate ondomohen, semuanya enak. Tapi kekurangannya adalah kita harus tahu tempatnya dimana. Orang luar kota kan susah carinya karena kebanyakan ada di kampung. Saya orang desa, sukanya makanan kampung, lebih lahap makannya. Saya cari makanan yang cocok dengan lidah.

Apa rencana Bu Rudy untuk 10 tahun kedepan?
Sekarang umur saya sudah tua, jadi anak-anak dan menantu yang akan meneruskan usaha ini. Anak laki-laki yang punya bakat masak seperti saya. Ya sampai sekarang saya pikirannya bekerja dan bekerja, sampai kekuatan saya berakhir. Saya juga punya pegawai yang sudah bekerja 10 tahun lebih, mereka jadi andalan saya. Mereka sudah bisa jalan sendiri tanpa saya perintah. Kekurangan saya cuma satu, produk saya belum ada logo halal dari MUI. Jika ada pelanggan yang bertanya mengenai isu sambal saya memakai minyak B2, saya menjawab itu tidak benar. Saya berani dituntut di depan pengadilan hari ini juga jika saya memang memakai minyak B2.

Pesan untuk generasi muda?
Saat diundang ke seminar-seminar di kampus, saya sering berpesan, “Kamu lebih pintar dari aku, kamu harus lebih sukses daripada aku”. Dan jangan malas bekerja, seandainya saya bisa kembali menjadi umur 30, maka 20 jam dalam sehari saya gunakan untuk bekerja.

- See more at: http://ayorek.org/2015/04/di-balik-sebotol-sambal-bu-rudy/#sthash.yzuBSOir.dpuf

Monday, January 12, 2015

Tarian Ritus Topeng Muludan Rai Gedek


Sejumah penari dari komunitas Surabaya Menari menarikan tarian Ritus Topeng Muludan Rai Gedek di pasar Genteng, Surabaya, Minggu (11/1/2015). Ritus Topeng Muludan juga merupakan bentuk keprihatinan para seniman terhadap hilangnya satu di antara sejumlah kebudayaan asli Kota Surabaya yang terkait dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yaitu Topeng Muludan.


Sumber :
http://www.tribunnews.com

Friday, December 26, 2014

Rumah Sakit Hewan Setail Surabaya


Fokus Kesehatan Satwa KBS, RSH Setail Tolak Penitipan Satwa

Dengan alasan ingin fokus dan berkonsentrasi terhadap kondisi kesehatan satwa koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS), rumah sakit hewan (RSH) Setail yang berada di bawah manajemen PDTS-KBS, tidak lagi melayani masyarakat yang akan menitipkan satwa peliharaannya.

�Kami ingin lebih fokus dan berkonsentrasi dengan kondisi kesehatan satwa-satwa koleksi KBS sendiri. Ini saja butuh konsentrasi, fokus serta kerja yang tidak enteng. Dan dengan demikian kami tidak lagi melayani jasa penitipan satwa peliharaan,� terang Aschta Nita Boestani Tajudin Direktur Operasional dan Umum Kebun Binatang Surabaya.

Per 1 Desember 2014 lalu, lanjut Sita, pihak RSH Setail memutuskan untuk tidak lagi melayani penitipan satwa peliharaan dari masyarakat, seperti yang sudah dilakukan dan berjalan pada tahun-tahun sebelumnya. Selain karena minimnya fasilitas, seluruh staf di RSH Setail diminta untuk konsentrasi menangani satwa-satwa koleksi KBS.

�Dari hasil evaluasi kami, fasilitas yang ada di RSH Setail tidak memadai untuk digunakan sebagai tempat penitipan satwa peliharaan masyarakat. Harus dihentikan. Termasuk dengan staf pelaksana di RSH, nantinya kami akan konsentrasikan merawat satwa koleksi KBS,� pungkas Sita pada suarasurabaya.net, Rabu (24/12/2014).

Sementara itu, Liliana warga Prapen, Surabaya, saat ditemui suarasurabaya.net, Rabu (24/12/2014) di depan RSH Setail mengaku baru tahu jika layanan penitipan satwa sudah tidak ada lagi di RSH Setail.

�Biasanya titip anjing. Soalnya kami sekeluarga Natalan di luar negeri. Baru tahu kalau tidak ada lagi penitipan satwa di sini,� ujar Liliana.


KBS Tutup Rumah Sakit Hewan Setail

Rumah Sakit Hewan (RSH) Setail tidak lama lagi akan ditutup untuk umum. Rumah sakit yang jadi bagian Kebun Binatang Surabaya (KBS) itu secara resmi berhenti beroperasi sejak 31 Desember atau sepuluh hari lagi.

Rumah sakit di Jalan Setail tersebut memang menjadi jujukan banyak penyayang binatang sejak dibuka pada 2005. Setiap hari tak kurang dari lima pasien dibawa ke sana. Misalnya, anjing, kucing, kura-kura, dan kelinci.

Selain pemeriksaan kesehatan, rumah sakit itu dilengkapi fasilitas penitipan hewan. Biasanya tiap libur panjang seperti akhir tahun, rumah sakit itu diserbu banyak penyayang satwa yang ingin liburan panjang. Tapi, setelah beroperasi sembilan tahun, rumah sakit tersebut akhirnya akan ditutup.

Ketua Perkumpulan Kinologi Indonesia (Perkin) Jawa Timur Singky Soewadji menuturkan, keputusan penutupan RSH patut disayangkan. Dia menyebutkan bahwa pendirian RSH itu bagian dari pengabdian KBS untuk masyarakat. ”Sungguh gegabah keputusan penutupan RSH tersebut,” ungkap dia.

Sepekan terakhir ini dia mendapatkan banyak pertanyaan dari pencinta satwa. Bukan hanya anjing, tapi juga kucing yang kerap membawa binatang peliharaannya itu ke RSH Setail. Dia pun berharap penutupan tersebut bisa dipertimbangkan lagi. ”Keberadaan RSH itu sangat dibutuhkan masyarakat. Sebab, KBS harusnya juga bermanfaat bagi lingkungan,” tambahnya.

Namun, direksi Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) KBS punya alasan tersendiri soal penutupan rumah sakit itu. Mereka menyebut kekurangan fasilitas kesehatan satwa untuk melayani binatang koleksi KBS. Maka, mau tak mau penutupan tersebut menjadi langkah terbaik. ”Ibarat orang mau tenggelam, kami tentu akan menyelamatkan diri sendiri dulu. Baru orang lain,” kata Direktur Operasional PDTS KBS Aschta Nita Boestani Tajudin kemarin (20/12).

Aschta menunjukkan kondisi karantina satwa dan tempat perawatan di dalam KBS. Kondisinya memang sungguh memperihatinkan. Kandang-kandang yang semestinya untuk satwa sakit dan menjalani karantina malah dipakai satwa yang tidak mendapatkan tempat.

Bangunan di pinggir kandang gajah itu juga sudah bocor di mana-mana saat hujan mendera. Bahkan, beberapa atap asbes sudah berlubang dan jatuh. Kondisi tersebut tentu sungguh tidak layak untuk perawatan satwa yang dilindungi. ”Memang keadaannya begini. Inilah yang membuat kami ingin memanfaatkan rumah sakit hewan untuk kepentingan internal,” imbuh Aschta yang pernah mengenyam pendidikan di Edinburgh University, Inggris, itu.

Dia mengatakan, rumah sakit tersebut tidak ditutup. Tapi, hanya beralih fungsi. Kalau sebelumnya dibuka untuk umum, RSH selanjutnya hanya akan difungsikan untuk satwa KBS. ”Fasilitas kesehatan hewan ini juga bukan satu-satunya di sini kan. Jadi, kami tidak menzalimi penyayang satwa,” tambahnya.

Selain perlu ruangan tambahan untuk perawatan satwa, KBS membutuhkan banyak pegawai untuk meningkatkan kualitas satwa. Di RSH Setail itu ada 1 dokter hewan, 2 paramedis, 2 staf laboratorium, dan 1 tenaga administrasi. Mereka nanti diperbantukan untuk merawat satwa-satwa KBS.

Aschta menyebutkan, bukan perkara mudah untuk merekrut tenaga baru. Dana yang mereka miliki terbatas. Selain itu, pendapatan dari RSH Setail tidak terlalu banyak. ”Sebulan bersih hanya sekitar Rp 6 juta,” tuturnya.

Kepala Departemen Kesehatan PDTS KBS drh Rahmat menuturkan, RSH Setail punya cukup banyak fasilitas penunjang yang bisa sangat berguna untuk satwa KBS. Di antaranya, rontgen khusus, ruang pemeriksaan yang memadai, dan ruangan untuk salon bagi satwa. ”Kalau di tempat karantina itu hampir semua fasilitas kurang memadai,” imbuh dokter yang sejak 1999 mengabdi di KBS tersebut.


Sumber :
http://www.jawapos.com
http://kelanakota.suarasurabaya.net

Tuesday, December 2, 2014

Telkomsel dan ITS Luncurkan Bus Listrik Pertama Terbesar di Dunia


Setelah sukses membuat mobil listrik, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menunjukkan kehebatannya membuat bus listrik.

Bus listrik yang didominasi warna merah branding Telkomsel dan berkapasitas 26 penumpang ini diresmikan hari ini di Halaman GraPARI Taman Bungkul Surabaya, Minggu (23/11/2014).

Peresmian Bus Listrik karya anak bangsa yang pertama berhasil diproduksi ini, dilakukan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, didampingi Direktur Utama Telkomsel Alex J Sinaga dan Rektor ITS Prof Dr Ir Triyogi Yuwono DEA serta Direktur Sales Telkomsel, Mas’ud Khamid.

Kesuksesan ITS membuat bus listrik ini tidak lepas dari dukungan Telkomsel sebagai Operator Paling Indonesia.

Selama ini, ITS telah melakukan kerjasama berupa penelitian dan pengembangan bus listrik sampai akhirnya hari ini terealisasi dan ditunjukkan kepada masyarakat.

Direktur Utama Telkomsel Alex J Sinaga, di sela peluncuran bus listrik, mengatakan “bus listrik ini adalah hasil karya anak bangsa yang patut kita banggakan”.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini menyambut baik hadirnya Bis Listrik hasil karya anak ITS dan dukungan Telkomsel.

“Saya berharap kedepan Bus ini bisa bermanfaat untuk Warga Surabaya. Kami juga menggagas adanya mono rel. Kini masih dibuat desainnya,” tukas Risma.

Sementara itu, Rektor ITS, Prof Dr Triyogi menambahkan, “Bus ini menggunakan Battery yang dapat di charge 8 jam mampu berjalan sampai dengan 160 Kiloneter. Dan keunggulan bus listrik ini adalah mampu menghemat biaya operasional hingga 40 persen dibandingkan bus konvensional,”ujarnya.

Kata Triyogi , bus listrik ini digerakkan oleh baterai yang diimpor dari China. Dan dilengkapi smart grid sehingga sumber listrik bisa didapatkan dari mana pun, termasuk tenaga surya.

Saat kapasitas baterai tinggal 20 persen, akan ada peringatan sehingga baterai tidak benar-benarhabis.

Terwujudnya Bus Listrik ITS ini, kata Alex, merupakan kepedulian Telkomsel dalam mendukung upaya Pemerintah mengembangkan kendaraan berbahan bakar listrik.

Berdasarkan road map yang telah disusun pemerintah, produksi 10.000 unit kendaraan listrik akandilakukanpada2016.

“Kehadiran bus listrik karya ITS ini menunjukkan bahwa sebenarnya sumber daya manusia Indonesia tidak kalah dengan sumber daya manusia yang ada di luar negeri. Kita harus bangga sebagai bangsa Indonesia, sekaligus ini juga menunjukkan, Indonesia tidak perlu impor bus listrik dari China karena sudah mampu memproduksi bus listrik sendiri,”papar Alex.

Sebelum peresmian Bus Listrik ITS, Telkomsel juga menggelar Heroes Fun Walk sepanjang 3 km yang diikuti sekitar 2000 peserta. Heroes Fun Walk ini ditujukan untuk ikut memperingati Hari Pahlawan.

Telkomsel adalah operator selular terbesar di Indonesia dengan jumlah pelanggan mencapai lebih dari 140 juta. Untuk melayani pelanggannya yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk juga di daerah terpencil dan pulau terluar serta daerah perbatasan Negara, Telkomsel menggelar 80.000 BTS.

Telkomsel secara konsisten mengimplementasikan roadmap teknologi 3G, HSDPA, HSPA+, serta uji coba teknologi Long Term Evolution (LTE) dalam upaya memandu perkembangan industri telekomunikasi selular di Indonesia memasuki era mobile broadband.

Salah satu program yang dicanangkan adalah membangun Broadband City di Indonesia, dimana saat ini telah mencapai 369 kota. Untuk melayani kebutuhan pelanggan, Telkomsel menggelar call center 24 jam dan 413 pusat layanan GraPARI yang tersebar di seluruh Indonesia.

http://www.tribunnews.com

Related Posts